Monthly Archives: February 2015

Wilayah (Regionalisasi) Pertanian untuk Swasembada Beras dan Palawija serta Peternakan

palawija

Pangan pokok warga negara Indonesia adalah beras (padi). Disamping padi, masyarakat juga mengkonsumsi pala berbie … eh palawija.

Menurut wikipedia: Palawija (Sanskerta: phaladwija) secara harfiah berarti tanaman kedua. Berdasarkan makna dari bahasa Sanskerta, palawija bermakna hasil kedua, dan merupakan tanaman hasil panen kedua di samping padi. Istilah palawija berkembang di antara para petani di Pulau Jawa untuk menyebut jenis tanaman pertanian selain padi.

Tanaman pertanian yang bisa disebut sebagai palawija adalah:

Jagung, Sorghum, Kacang hijau, Kacang unggak,

Kedelai, Singkong, Kentang, Ubi, Gembili, Wortel, Mentimun,

Oyong, Kacang panjang dan Talas.

Swasembada beras secara teori mudah. Buat harga jual beras (gabah padi) yang menarik dan di sisi lain buat harga pupuk murah. Sekiranya selisih harga jual beras dan harga produksi (termasuk harga pupuk murah) cukup besar. Tentunya petani Indonesia akan berbondong-bondong menanam beras.

Jadi kalau selama ini beras sebagian kecil (besar) dar import ya artinya petani tidak tertarik menanam beras. Pemerintah tidak berhasil dengan program pertanian nya.

Yang sulit adalah bagaimana supaya dalam ekonomi pasar ini Pemerintah bisa menjaga supaya harga suatu komoditas pertanian tidak jatuh, supaya supply produk pertanian mencukupi tapi harga menarik buat petani.

Saya pernah menulis 1 Juni 2007 mengenai Wilayah Pertanian yang mengadopsi sistem tanam paksa. Dapat dicek di sini (situsnya sudah tidak ada):

http://web.archive.org/web/20090916135532/http://bangsabodoh.wordpress.com/2007/06/01/wilayah-regionalisasi-pertanian-untuk-menjaga-hasil-dan-harga-panen/

Wilayah (Regionalisasi) Pertanian di Indonesia

Wilayah pertanian maksudnya adalah wilayah dimana suatu produk pertanian dibolehkan/diwajibkan ditanami suatu produk pertanian pada suatu periode. Nah biar pembaca tidak bingung, gampangnya begini (ini misal saja):

– bawang merah hanya boleh ditanam pada tahun 2007 di Jawa Tengah dan Jawa Timur
– cabe hanya boleh ditaman pada tahun 2007 di Jawa Timur
– Kambing hanya boleh diternakan di Jawa Barat
– Kerbau hanya boleh diternakan di Jawa Timur

Dengan pengwilayahan ini maka diharapkan jumlah produksi suatu tanaman tidak berlebihan sehingga harga tidak terlalu jatuh.

Nah untuk tahun 2008 diubah misalnya sebagai berikut:
– Bawang Merah hanya boleh ditanam pada tahun 2008 di Jawa Barat
– cabe hanya boleh ditaman pada tahun 2008 di Jawa Timur

Jadi bergiliran. Apa bisa? Dahulu jaman kolonial Belanda, penduduk jawa barat dilarang menanam tebu, jadi produksi Tebu terkontrol tidak berlebihan, sehingga Belanda ketika menjual di Eropa tidak mengalami kerugian. Oh ya akibat peraturan ini, orang Jawa Barat sejak jaman Belanda hingga sekarang terbiasa minum teh pahit (tanpa gula). Jadi ketika saya dari Jawa Timur, datang ke Jawa Barat pada tahun 1990 saya menjadi kaget karena orang sunda biasa minum teh yang tidak manis…

Terus apa bisa wilayah pertanian ini diterapkan? Ya bisalah kan pemerintah punya tentara, yang tidak patuh ya tembak saja (maksud saya, rakyat harus patuh pada pemerintah).
Nah bagaimana dengan beras yang ternyata produksi nasional masih kurang, apakah harus dibuat wilayah terbatas penanaman beras? Tentu saja tidak, malahan dibuat suatu kebijakan bahwa wilayah A dan B misalnya, wajib ditanami beras pada suatu periode.
Apakah kira-kira pemerintah yang berkuasa saat ini sanggup menerapkan kebijakan diatas?

Wilayah Pertanian hanya bisa diterapkan dengan kekerasan (Stick) seperti Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) VOC atau Negara Sosialis atau dengan iming-iming (Carrot) seperti di Amerika Serikat. Sedangkan di Indonesia Pemerintah hanya bisa “menyarankan” atau “menghimbau”. Ya cek saja contoh berita di bawah ini:

Musim Kemarau Tiba, Petani Diimbau Tanam Palawija Ketimbang Padi

Advertisements

Departemen Gorong-Gorong Jakarta dan Jabodetabek

gorong2

Foto gorong-gorong di Tokyo, Japan.

Opini ini saya tulis pada 24 Mei 2007 di situs wordpress saya yang lain. Situs nya sudah terblocked/terhapus karena suatu hal. But you can find it through Web Archieve.

http://web.archive.org/web/20071118225847/http://bangsabodoh.wordpress.com/2007/05/24/departemen-jalan-raya-dan-gorong-gorong/#more-17

Setiap hujan turun, meski tidak terlalu deras, tak lama kemudian nampak beberapa jalan di Jakarta menjadi tergenang. Setelah hujan reda, genangan kadang masih saja ada. Di harian kompas pun sering memberitakan beberapa ruas jalan di jakarta yang selalu tergenang bila hujan turun. Yang pernah saya alami adalah: – perempatan Kota – Glodok – jalan sudirman ke arah bundaran HI dari Sarinah – jalan dekat JDC Tanah Abang – jalan Palmerah – jalan Rasuna Said Kuningan.

Saya lihat penyebabnya adalah tersumbatnya saluran drainase dan gorong-gorong. Saya yakin bahwa gorong-gorong di jakarta belum tentu setahun sekali dibersihkan. Untuk jalan rasuna said saya amati genangan air makin besar setelah ada proyek tiang-tiang monorail (bahkan beberapa ubin diatas jembatan penyeberang retak-retak dan lepas dari lantai dasarnya). Ya gampang saja, kita menyatakan tanpa terbantahkan bahwa Pemda DKI tidak mampu me-manage jalan dan darinase di wilayahnya. Bang Yos, piye Bang….anak buah ente tidak becus semua!

Usulan saya adalah semua jalan dan drainase yang ada di seluruh Indonesia harus dikelola oleh satu Departemen atau Dirjen dan dipimpin oleh pribadi yang becus tidak gaya tidak asal-asalan. Bagusnya sih dipimpin oleh seorang Tukang Insinyur Jenius lulusan Universitas bergensi, dalam maupun luar negeri. Selain masalah drainase, saya lihat juga banyak jalan-jalan rusak baik di jakarta maupun di daerah.

4 Tips Mengatasi Macet Jalan Jakarta

Semingguan yang lalu di Jakarta disebut sebagai Kota Termacet di dunia … wew … Sebuah julukan yang sangat memalukan.

Mengapa jalanan kota Jakarta dan juga jabodetabek macet? ya benar karena si Komo lewat … wew lagi.

Jalan raya di Jakarta macet antara lain diakibatkan oleh :

  • Volume kendaraan tidak sebanding dengan ruang jalan
  • Terjadi bottle neck (opo iki) pada pintu keluar tol, pembayaran tol dan perempatan lampu merah.

Apa solusinya?

Pertama: Secara teori mudah solusinya kita bilang bangun saja jalan yang banyak. Saya mengusulkan Jakarta should constructing fly over highway and also underground highway. Bisa dimulai dengan jalan S. Parman – Gatot Subroto dan Jalan Fatmawati – Sudirman – Thamrin.

Kedua: Memperbanyak underpass sehingga mengurangi keberadaan persimpangan dan lampu merah.

Ketiga: Bangun Giant Parking Lot (GPL) yang setiap tempat parkir bisa menampung 10,000 kendaraan. Misalnya bangun di sekitar Cawang, bangun di Karang Tengah Tangerang dsb. Sekurangnya diperlukan 100-200 Giant Parking Lot. Lokasi GPL berdekatan dengan jalan raya/tol. Selanjutnya sediakan 10,000 – 20,000 feeder buss yang menghubungkan GPL dengan bagian selatan – utara – timur dan barat Jakarta. Ya terserah mau integrated bussway atau apalah.

Adanya GPL ini akan mewajibkan sebagian (bisa sistem gilir) atau seluruh kendaraan roda empat pribadi dari Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor untuk tidak memasuki Jakarta. Selanjutnya pengemudi dan penumpang akan menggunakan 10,000-20,000 feeder bus yang disediakan dengan dikenakan biaya transportasi yang terjangkau.

Keempat: Kalau masih macet ya memindahkan ibukota RI ke Kalimantan. Wew … dijamin tidak macet.

7 Tips Gratis Mengatasi Banjir Jakarta

Banjir (flood) atau genangan (inundation) di suatu tempat (Jakarta) terjadi akibat air yang masuk (in) lebih besar dari air yang keluar (out).

Pertama: Mendirikan Depatemen (badan) Khusus Gorong-Gorong di Jakarta jabodetabek

Dari 2007 saya sudah menulis di blog saya yang lain bahwa drainase di jakarta itu parah. Sekitar tanggal 7 Januari 2015 saya sudah email Pak Gubernur Ahok mengenai usulan saya ini.

Nanti saya posting ulang tulisan saya tahun 2007 itu.

Infonya air di bendungan katulampa bogor tidak naik, jadi banjir jakarta kemungkinan besar akibat buruknya drainase yang ada.

Blusukan ex Gubernur Jokowi ke dalam selokan, got dan gorong-gorong bagus, tapi seharusnya dilengkapi dengan catatan semua selokan dan gorong-gorong yang ada di Jakarta dan Jabodetabek yang mana yang mampet yang mana yang lancar.

Kedua: Bangun banyak kanal (sungai buatan) dan waduk reservoir

Sekiranya debit sungai jakarta terlalu besar, maka adanya banjir kanal dan waduk dan saluran buatan sangat membantu untuk mengurangi beban derita sungai-sungai yang ada. Sebagaimana sudah banyak dibahas, banjir kanal memang sudah dibangun (tapi belum selesai). banjir kanal terkendala pembebasan lahan.

Solusi:  Ini negara RI, ada densus 88, ada tentara TNI. Tembak yg gak mau digusur

“Pembenahan Banjir Jakarta Terkendala Pembebasan lahan”.

Yang ngomong Pelanggaran HAM HIM HUM … #mikir !

Wong tersangka teroris yang sebagian mungkin belum pasti salahnya apa, eh  langsung ditembak ditempat. Apalagi ini ada orang yang ngeyel tidak mau menjual tanah untuk pembebasan lahan untuk kepentingan pembangunan.  Ya tembak saja orang kayak begini, kalau tetap menolak diganti untung. Ngrusuhi saja. Tentunya ganti rugi harus menguntungkan selayaknya sewajarnya.

Ketiga: Perbanyak daerah resapan air

  • Bisa dilakukan dengan membatasi pembangunan mall, hotel, apartemen terutamanya di pusat kota.
  • Pada daerah tertentu buat underground tunnel.
  • Stop pembangunan Jakarta Water Front City

Keempat: perbanyak pompa air

Buat contingency plan sekiranya PLN mati dengan menyiapkan genset dan mobile genset, sehingga pompa akan tetap hidup terus sampai kiamat.

Kelima, kampung pulo dll dibuat pagar beton keliling supaya air tidak masuk

Jadi kampung pulo jakarta seperti benteng, air dari luar tidak bisa masuk ke dalam kampung pulo. Air yang tergenang di dalam langsung sedot dengan pompa. Mobil dan kendaraan tetap bisa masuk tapi pintunya diatur sedemikian rupa sehingga kalau banjir air yang masuk wilayah ini bisa dikontrol karena sudah dikelilingi beton anti bocor.

Pada musim kemarau  untuk pembuangan air sisa rumah tangga dikumpulkan di suatu tempat lalu disedot dengan pompa ke sungai.

Keenam, hutan daerah puncak Bogor harus dijaga

Hutan daerah puncah harus dijaga dan diperbanyak dengan tanaman yang meyerap banyak air.

Ketujuh, stop bicara nonsense

Menyalahkan PLN sebagai biang kerok banjir di istana tentunya hal yang sangat-sangat tidak cerdas. Dan jangan ditambah hal lebih aneh dan lebay lagi dengan menyarankan masyarakat yang tidak mau banjir supaya migrasi pindah ke Kepulauan Seribu.