Stop! Khitan Sunat Pada (Bayi) Perempuan

Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam, editor Abdul Azis Dahlan et al., Jakarta, 1997, Vol 3 pada sub bab Khitan diterangkan sebagai berikut: Khitan (berasal dari akar kata arab khatana-yakhtanu-khatnan = memotong). Secara terminologi pengertian khitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Imam al-Mawardi, ulama fikih Mahzab Syafi’I, khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar, sehingga menjadi terbuka.

Stop! Sunat pada Wanita Perempuan

Stop! Khitan Pada (Bayi) Perempuan

Sedangkan khitan bagi perempuan adalah membuang bagian dalam faraj yaitu kelentit atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga I’zar dan bagi perempuan disebut khafd. Namun keduanya lazim disebut khitan.

MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA BILA ADA KATA / KALIMAT YANG KURANG / TIDAK SOPAN. SEBENERNYA SAYA AGAK MALAS UNTUK MEMBAHAS SUBJECT INI  …

Pernah di post di http://irwan.web1000.com/ pada tanggal Februari 03, 2003 

Ngomong-ngomong tentang praktik khitan pada bayi perempuan, saya masih ingat ketika berumur 9 tahunan ikut keluarga membawa seorang anak perempuan berumur dibawah 2 tahun ke seorang perempuan dukun khitan. Berbeda dengan khitan pada laki-laki yang dikhitan dengan bantuan obat bius lokal dan kadang dirayakan semeriah pesta kampung 17 agustusan, khitan pada anak perempuan dilakukan tanpa obat bius dan adem ayem saja tanpa ada yang tahu kecuali keluarga dekat. Si bayi akan menangis selama beberapa saat setelah dikhitan.

Dalam Alquran tidak ada ayat yang secara tegas mewajibkan khitan baik pada laki-laki maupun wanita, Sumber hukumnya hanya dari hadits (perkataan nabi). Sehingga tidak mengherankan 4 mahzab utama dalam Islam berbeda pendapat mengenai khitan. Mahzab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa hukum berkhitan bagi laki-laki adalah sunah (tidak wajib tapi dianjurkan). Mahzab Syafi’I dan Hanbali mewajibkan khitan bagi laki-laki. Sedangkan untuk wanita, Hanafi dan Hanbali mubah/dibolehkan (tingkat hukum mubah dibawah level hukum sunah) . Sedangkan Syafi’I menyatakan wajib. Sebagaimana yang dicatat Yusuf Qardawi (dalam ensiklopedi yang sama), khitan pada anak-perempuan tidak sama di negara-negara berpenduduk Islam, Brunei, Malaysia dan Indonesia (yang menganut mahzab Syafii) adalah negeri-negeri yang mengkhitankan anak perempuan. Sementara di Timur tengah tidak ada tradisi ini.

Hadits yang agak tegas menyarankan khitan pada perempuan hanyalah hadits yang dikumpulkan Abu Dawud,

 “bahwa Nabi Muhammad pernah berkata kepada seorang perempuan juru khitan anak perempuan, ‘sedikit sajalah dipotong, sebab hal itu menambah cantik wajahnya dan kehormatan bagi suaminya’”.

Perlu diinformasikan disini, dalam Islam, hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Abu Dawud dianggap kurang bernilai bila dibandingkan hadits kumpulan Imam Muslim dan Imam Bukhari.

Saya menghimbau seyogyanya MUI segera memberi fatwa tegas tentang hal ini dengan minta pendapat para dokter yang kompeten. Selain penjelasan diatas, mungkin penjelasan dibawah ini dapat meyakinkan MUI sehingga tidak lagi sekedar mengekor penafsiran Imam Syafi’I. Pada tahun 1995 saya menjadi kaget setelah melihat salah satu buku teks Biologi untuk tingkat universitas tentang perkembangan janin dalam kandungan. Pada beberapa bulan pertama alat kelamin laki-laki dan perempuan bentuknya sama, kemudian sedikit-demi sedikit mengikuti perkembangan janin, alat kelamin laki-laki mengalami perubahan mencolok, (maaf) ujung/kepala zakarnya dan badan zakar cenderung berkembang dan bagian bawahnya menutup rapat, Sedangkan pada bayi perempuan kelentit / cilitoris yang merupakan bagian sama dengan ujung zakar tidak mengalami perkembangan berarti dan tidak terjadi penutupan rapat pada alat kelaminnnya. Dengan demikian khitan pada kelentit perempuan sama saja dengan memotong sebagian ujung zakar seorang laki-laki bukan lagi sekedar kulit penutup ujung zakar. Tentunya si bayi perempuan akan sangat menderita mengingat kelentit perempuan sebagaimana ujung zakar pria adalah salah satu bagian tubuh dimana banyak sekali syaraf-syaraf perasa berada. Inilah yang membuat orang-orang barat yang mengetahui masalah ini memprotes sangat keras praktek khitan pada bayi perempuan.

Mahmud Syaltut, ulama dari mesir, dalam ensiklopedi yang sama, menyatakan karena Khitan tidak ada nash dalam Alquran maka urusan Khitan hanyalah urusan ijtihad (inisiatif ulama). Syaltut menambahkan “membuat sakit orang yang masih hidup tidak dibolehkan dalam Islam, kecuali ada kemahlahatan-kemashlahatan yang yang kembali kepadanya dan melebih rasa sakit yang menimpanya.

Alasan khitan pada wanita baik untuk mengurangi libido (yang nampaknya sebagai upaya mengurangi terjadinya perselingkuhan) ataupun alasan lain, menurut saya, itu adalah alasan kaum laki-laki yang sombong yang merasa berhak mengatur masa depan kehidupan seksual para kaum perempuan  Semoga MUI tidak tulalit dan segeralah fatwa yang nantinya dibuat disebarkan melalui masjid-masjd dan disosialisasikan setiap sholat jumat, sehingga dalam 3 bulanan praktek idiot ini seharusnya sudah tidak ada lagi.

P.S. Jujur saja saya gak yakin MUI akan merespon secara cepat.

Advertisements

One thought on “Stop! Khitan Sunat Pada (Bayi) Perempuan

  1. Pingback: Sunat adalah Budaya Firaun Mesir Kuno | aku suka kamu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s