Pelajaran dari Nabi Khidir tentang Pengelolaan Bahan Tambang di Freeport dll

Dalam Alquran surat 18 ayat 60-82 dikisahkan tentang usaha Nabi Musa untuk belajar dari Nabi Khidir dengan cara mengikuti pengembaraan Nabi Khidir.

Saya pernah baca suatu buku, entah kapan, yang menyatakan bahwa latar belakang kisah Musa dan Khidir adalah karena Musa yang telah berhasil mengalahkan Firauan dan tentaranya menjadi agak-agak sok, seakan-akan ia adalah hamba yang paling pandai dalam segala hal. Kemudian Tuhan menyuruhnya mencari dan mengikuti seseorang yang lebih pandai yaitu Khidir.

Pada suatu ketika sampailah mereka ke suatu wilayah dimana penduduknya menolak menjamu mereka, kemudian mereka menjumpai di wilayah itu sebuah bangunan yang dindingnya rusak dan hampir roboh. Tanpa “ba bi bu” lagi Khidir segera menyingsingkan lengan baju untuk memperbaikinya. Akhirnya bangunan itu selesai diperbaiki menjadi layak huni kembali.

 Musa yang sedari tadi hanya bengong tidak kuasa menahan diri untuk berkomentar atas perbaikan yang dilakukan nabi Khidir itu: “seandainya engkau mau, maka engkau dapat minta upah atas jerih payahmu itu”.  Oh ya sebagai informasi, sebelum pengembaraan dilakukan, Khidir telah berpesan kepada Musa supaya jangan berkomentar / bertanya tentang sesuatu apapun, sampai Khidir sendiri yang akan menjelaskannya kepada Musa.

(Untuk mengetahui seluruh pengembaraan Khidir dan Musa lebih jelas, silahkan pembaca melihat surat 18:60-82).

Penjelasan Khidir mengenai perbaikan bangunan tersebut adalah sebagai berikut: “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di negeri itu, dan dibawah rumah ada harta benda warisan bagi mereka berdua, sedang mendiang ayah nya adalah orang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan dapat mengeluarkan harta itu sebagai rahmat tuhanmu; dan bukanlah aku melakukan itu atas kemaunku sendiri. Demikian adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat menahan diri untuk tidak berkomentar.”

Dalam kisah Khidir diatas sebenarnya tersirat suatu konsep pembangunan yang berkaitan dengan pengelolaan Sumber Daya Alam, khususnya bahan tambang, seperti gas, minyak, emas, batu bara, besi, dan sejenisnya. Kondisi bangsa dan negara Indonesia sama persis dengan kisah diatas. Dalam hal teknologi dan manajemen pengelolaan bahan tambang dapat dikatakan bangsa Indonesia masih “anak-anak”, masih belum mampu mengelola semua bahan tambang secara mandirii. Sementara di dalam bumi negara Indonesia terkandung “harta benda” yang cukup berlimpah seperti gas, minyak bumi, emas, dsb. Untuk mengelolanya secara mandiri diperlukan “kedewasaan” dalam hal teknologi dan manajemen pengelolaan sumber daya alam, masih perlu waktu beberapa puluh tahun lagi.

Namun, yang dilakukan Pemerintah Indonesia sejak 1945 berbeda dengan yang dilakukan Khirdir. Bila Khidir memutuskan untuk menjaganya supaya tidak diambil lebih dahulu, Pemeritah Indonesia malahan mempersilahkan perusahaan-perusahaan asing untuk mengelola sebagian besar bahan tambang yang ada, seperti Freeport untuk mengelola emas dan tembaga, Exxon untuk mengelola gas alam, Mobil Oil untuk mengelola minyak bumi, dan lainnya.

Sebenarnya Khidir bisa saja menyerahkan harta benda yang ada kepada orang lain untuk mengelolanya, tapi toh Ia tidak melakukannya. Hal ini karena Ia tahu ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi atas harta benda itu bila dikelola oleh orang lain selagi pewarisnya masih anak-anak. Bisa saja harta itu bertambah banyak tapi ada kemungkinan juga harta itu menjadi semakin berkurang karena keuntungannya digunakan juga untuk menggaji si pengelola. Kemungkinan yang terburuk adalah harta benda itu habis karena usaha bangkrut, sehingga ketika si anak sudah dewasa, harta benda nya sudah tidak tersisa lagi. Suramlah masa depan anak-anak itu, Hal itulah yang dihindari oleh Khidir.

Nah sebagai akibat sebagian besar bahan tambang dikelola oleh pihak asing, maka sebagian keuntungan dimakan pihak asing tersebut. Nanti ketika anak cucu bangsa Indonesia telah “dewasa” dalam penguasaan teknologi, “harta benda” nya kemungkinan sudah habis tidak bersisa atau kalaupun masih ada sudah tidak lagi ekonomis untuk dikelola. Suram nian masa depan anak cucu bangsa Indonesia ini.

Saat ini, meskipun agak terlambat, seyogyanya pemerintah menghentikan campur tangan asing dalam pengelolaan bahan tambang di negara Indonesia. Perlu lah segera mencontoh kebijakan perbuatan Khidir, seseorang yang disebut Alquran sebagai seorang hamba yang telah Tuhan berikan kepadanya rahmat dan telah diajarkan kepadanya ilmu dari sisi Tuhan.

Before, posted in 2003 at:

http://irwan.web1000.com/pelajaran_khidir.html

Advertisements

One thought on “Pelajaran dari Nabi Khidir tentang Pengelolaan Bahan Tambang di Freeport dll

  1. pramartya

    Ya itulah pak…..kalao penguasanya ga ada yang berpegang ke sesuatu yang udah pasti kebenarannya, tapi malah bergantung sama sesuatu yang udah pasti kerusakannya………

    Kira – kira kapan Indonesia bisa lebih baik lagi ya????

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s