Musuh Alami Hama Semakin Langka

surat pembaca yang saya tulis di Kompas (July 2005)      Pada 23 Juni 2005 sekitar pukul 06.00, saya melihat berita di televisi tentang musibah hama wereng batang cokelat di Jawa Tengah sebagai akibat dari petani yang menanam padi setelah selesai memanen palawija tanpa selang waktu.

Dinas Pertanian diberitakan akan segera menanggulangi dengan cara menyemprotkan insektisida, membiakkan musuh alami berupa laba-laba, serta memotong siklus hidup wereng dengan pola tanam.

Selain hama wereng, petani Indonesia akrab dengan hama belalang dan hama tikus. Dan ini terjadi berulang kali dari saya seumur anak SD hingga umur 30-an ini. Salah satu penyebab munculnya hama-hama ini adalah karena di alam, di sawah, musuh alami hama-hama ini semakin langka. Burung-burung ditangkapi dan dijual di pasar.

Yang ditangkap tidak hanya burung ocehan berharga mahal, tetapi juga burung-burung murahan sejenis kutilang, prenjak, bahkan burung gereja pun ditangkap. Di banyak pasar tradisional sering dijumpai burung- burung kecil hasil tangkapan di alam dan dijual dengan harga sekitar Rp 1.000 per ekor untuk mainan anak-anak, yang dalam waktu seminggu-dua minggu si burung akan mati karena tidak terawat.

Ular-ular pun bernasib sama, ditangkapi untuk diambil kulitnya atau dijadikan obat kuat. Para penjual burung dan penangkap ular terpaksa menangkapi burung dan ular karena itulah lapangan pekerjaan yang tersedia yang dapat dilakukan.

Mereka tidak tahu bahwa tindakan sepele yang dilakukan itu membawa akibat besar, yaitu terputusnya rantai makanan di suatu habitat. Wereng, belalang, dan tikus pun menjadi hidup bahagia dan tenteram. Para petani terpaksa merogoh kantong lebih dalam untuk membeli insektisida dan pestisida, bahan- bahan kimia yang kita tahu tidak ramah lingkungan.

Selama para menteri, para pejabat terkait, para gubernur, dan para bupati tidak diberikan target dan dikenai sanksi yang jelas untuk mengukur dan memacu prestasi mereka dalam menyediakan lapangan kerja, maka tidak akan banyak lapangan kerja tersedia. Selama lapangan kerja tidak tersedia, akan banyak lagi burung dan ular-ular yang ditangkapi dan dikeluarkan dari rantai makanan. Selama banyak burung dan ular yang terbunuh, segala macam hama akan selalu menghantui petani Indonesia setiap tahun.

Pernah dimuat di Surat Pembaca harian kompas:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/11/opini/1880013.htm

Baca berita terkait:

Darah Petani Keracunan Pestisida

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s