Darah Petani Keracunan Pestisida!

Lampung Post oleh H.Bambang Eka Wijaya:

“BUAT apa Bapak membawa brotowali dan sambiloto itu?” tanya istri.

“Untuk diminum rebusannya!” jawab suami. “Apa Ibu tak baca pita berita Metro TV? Hasil uji petik Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang atas sampel darah 550 petani sentra hortikultura daerah itu, 99,8 persen keracunan, tercemar pestisida! Sebanyak 18,2 persen tercemar berat, 72,73 persen tercemar sedang, 8,9 persen tercemar ringan! Hanya 0,2 persen yang bersih atau normal!”

“Itu kan petani di Magelang, Jawa Tengah! Kita di sini ngapain repot?” timpal istri. “Apalagi kita bukan petani yang menyemprot tanaman dengan pestisida atau insektisida!”

“Tapi kita mengonsumsi sayur-mayur dan produk hortikultura! Kalau darah petaninya saja terkena cemaran, kita konsumen produk mereka sebaiknya jaga-jaga!” tegas suami. “Kakek dahulu meminum air rebusan brotowali atau sambiloto secara teratur untuk membersihkan darahnya dari segala jenis unsur beracun!”

“Itu mungkin untuk keracunan ringan! Kalau tercemar berat dan menengah, yang terbaik ke dokter!” sambut istri. “Tapi kasihan para petani kita, yang untuk jenis tanaman tertentu pola budi daya pertanian antardaerah relatif tak jauh berbeda! Kemungkinan nasib serupa dialami petani daerah ini, bukan mustahil!”

“Pokoknya pemerintah harus peduli nasib kaum tani yang malang itu!” tegas suami. “Misalnya, mengerahkan para ahli untuk menemukan pembasmi hama organik, yang secara alamiah mudah larut terutama dalam darah!”

“Juga Badan Pengawas Obat dan Makanan kita kayaknya harus kembali kerja keras!” timpal istri. “Setelah membuktikan banyak produk pabrikan luar negeri mengandung bahan terlarang, juga perlu diperiksa buah-buah impor yang ramai di pasar kita! Soalnya kalau buah lokal dibawa dari desa ke kota saja sudah layu, apa pula rahasia buah impor yang dibawa jauh berminggu-minggu tetap segar dan berkilau! Selain dicari unsur insektisida atau sejenisnya, apa tak mungkin pakai formalin pula sebagai pengawetnya?”

“Jangan terkesan mengada-ada! Pihak terkait pasti tak lengah untuk menjaga kesehatan masyarakat!” tegas suami. “Segala bentuk produk lokal saja diawasi ketat!”

“Justru karena produk lokal mendapat kontrol ketat, jangan sampai malah produk asing terlupakan!” sambut istri. “Sebab, kumulasi kandungan zat-zat berbahaya dalam tubuh manusia bisa berakibat fatal, seperti kanker!”

“Seiring dengan usaha instansi pemerintah melindungi warga dari bahan berbahaya dalam makanan itu, peralihan pola konsumsi warga ke makanan organik dan sehat perlu terus digalakkan!” ujar suami. “Beli sayuran lebih baik memilih yang ada bekas dimakan ulat daripada yang tampak segar dan utuh, tapi mungkin mengandung insektisida! Beli beras jangan asal putih, sudah ketahuan ada yang diputihkan dengan deterjen!”

“Menjaga kesehatan keluarga memang lebih baik, daripada kena penyakit biayanya mahal!” tegas istri. “Pemerintah diharapkan segera menguji petik darah petani, agar jangan setelah tercemar berat baru jadi perhatian!” ***

http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007091802383416

Tulisan saya terkait:

https://akusuka.wordpress.com/2007/11/08/musuh-alami-hama-semakin-langka/

Advertisements

One thought on “Darah Petani Keracunan Pestisida!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s